kehidupan selalu berjalan, dengan perubahan.

bisa dilihat dalam kehidupan pribadi saya sendiri yang juga pasti dialami oleh semua orang yang masih terus hidup. yang saya rasakan adalah beberapa perubahan yang terjadi di 2009. dimulai dengan perjuangan saya untuk lulus kuliah dengan mengikuti berbagai proses persidangan dan skripsi yang berjumlah 520 halaman.

sebuah keputusan yang saya ambil untuk menyelesaikan skripsi itu adalah dengan berhenti dari pekerjaan yang saya sukai di majalah lokal bandung karena bisa mengerjakan sesuatu tentang musik yang selalu menjadi cita2. itu bagi saya adalah keputusan yang cukup berat untuk memulai sesuatu yang lebih berat lagi: menjalankan penelitian tentang capoeira yang baru selesai kira2 satu tahun lamanya.

pada saat memulai penelitian itu, perubahan mendadak terjadi dengan timbulnya ketidaksukaan terhadap asap rokok. sesuatu yang aneh untuk saya yang sudah mulai merokok sejak smp secara diam-diam. marlboro merah yang menjadi andalan terakhir mendadak berubah rasa menjadi makanan basi. anehnya, keadaan saat itu sebenarnya memperburuk kondisi saya sebagai pekerja skripsi. saya mulai gemetaran setiap malam ketika mengetik karena tubuh saya menagih adanya asupan asap.

dalam kondisi yang seperti itu, selama satu tahun saya melepas kebiasaan sebelumnya untuk bermain dengan orang-orang. atau bahasa lainnya, “beredar” kalo kata seorang teman. selama itu juga saya mendapat berita tentang berubahnya nasib teman-teman. kebanyakan memang sukses sampai bermain musik diluar negeri, dikejar karir di jakarta, menikah, memulai usaha, dll. kabar-kabar yang baik. saya, masih menyusun bab 4.

setelah skripsi rampung dan lulus – yang ternyata biasa saja rasanya, juga terjadi perubahan dalam masalah hati yang tidak ingin saya ceritakan, karena begitu indah. juga perasaan-perasaan indah lainnya ketika berkelana di gunung kidul, perasaan rindu dengan alam yang sudah lima tahun tidak pernah dirasakan lagi selepas lulus trupala – nama sekolah saya di jakarta dulu. kudung kidul takkan terlupa karena disana pertama kalinya saya benci dengan seorang sahabat, perasaan berharga yang tidak ingin saya rasakan lagi.

dalam pasca lulus skripsi itu saya juga mengalami perubahan di sisi kepercayaan diri dimana, sebagai seorang pengangguran, merasa tidak memiliki kemampuan apapun yang bisa dijual untuk memperoleh gaji. hal itu dipertegas dengan tidak adanya panggilan dari perusahaan-perusahaan yang sudah masuk dalam daftar surat terkirim dengan tempelan daftar riwayat hidup. semua agency periklanan yang setangah diharapkan oleh keluarga tidak ada yang tertarik dengan saya. alhasil, saya mengerjakan apa saja yang lain, termasuk membantu menjaga toko seorang teman dalam sebuah festifal konsumerisme di bandung.

ketika menjaga toko itu, saya berkenalan dengan dua orang marketing sebuah perusahaan yang sedang buka lowongan. mereka baru 4 hari bekerja, dan berhasil memberanikan diri saya untuk mengajukan diri dalam ajang penerimaan pegawai itu. saat itu saya sedang menjadi seorang yang berstatus “4-hari-menuju-wisuda-setelah-nganggur-terlalu-lama-dan-tidak-ada-bayangan-untuk-kerja-seperti-apa”, jadi apa salahnya saya mencoba untuk menjadi seorang marketing? walaupun itu tidak menjadi minat saya sama sekali. saya rela mencoba karena percaya bahwa tidak bekerja adalah sebuah perbuatan menyakiti diri sendiri.

berkat bantuan seorang teman – yang merupakan senior dari 2 orang marketing tadi – saya mendapat panggilan interview. panggilan yang diterima ketika sedang stress tertekan pertanyaan seluruh keluarga: “mau kerja apa sekarang? kan udah sarjana…” itu seperti nyanyian pulau kelapa di isi kepala saya yang tidak ada satu pun pohon bergoyang. di hari ke 4 setelah wisuda, saya pun menjadi pegawai kantor seperti sekarang ini. suatu perubahan terjadi dengan singkat. 4 hari adalah waktu yang sangat berbeda dengan ketakutan saya ketika sebelum wisuda bahwa saya mungkin akan menganggur lebih lama lagi dari ini. setelah 4 hari itu saya berubah dari pemakai kaos + jeans menjadi celana bahan + kemeja. converse telah berubah menjadi sepatu kulit semi formal. sebuah seragam yang tidak pernah saya pikirkan untuk dipakai dalam bekerja di masa depan, yang ternyata malah terpakai di masa kini.

semua berubah, dan itu anugerah.

sekarang ketika jadi pegawai kantoran, saya jadi bertanya-harap-cemas akan adanya perubahan yang kemungkinan akan terjadi dalam waktu dekat diluar rencana seperti yang sudah-sudah.

Iklan

7 thoughts on “kehidupan selalu berjalan, dengan perubahan.

  1. mungkin mas, itu sebabnya kita sebut dengan “jalan”..kita melangkah, dan semua-pun berubah..ps:kpan2 kita jalan2 lagi ya? semoga yang perasaan “benci” bisa cepat dimaafkan..sukses jadi pegawai ya mas..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s