Saya dan Kecoak

Bandung, 2006. Kala itu kita bisa temukan tumpukan sampah kemanapun mata memandang.

Saya masih ingat pemandangan ketika naik angkot melewati pasar simpang sampai terminal dago atas dan di pinggir-pinggir jalan, mulut gang, taman kecil pemisah jalan raya semuanya dipenuhi tumpukan sampah penuh lalat. Berantakan. Jorok. Pada masa itulah saya menyadari hubungan saya dengan kecoak yang cukup spesial bahkan sampai setelah saya menikah ini.

Ada dua macam bau yang sangat saya kenal dan akrab dengan lingkungan jorok dan kotor seperti ini. Satu, bau sampah. Dua, bau kecoak. Bau yang pertama – bau sampah – adalah bau yang saya rasa paling banyak dikenal orang. Mereka seringkali langsung menutup hidung kalau tak sengaja mencium bau yang ini. Tapi untuk bau yang kedua tidak demikan. Berapa diantara kalian yang mengenal bau kecoak? Saya terlahir dengan bakat untuk mencium dan mengenali bau ini. Apek. Sangat khas. Kalau saya bilang “Bau kecoak nih!” orang selalu bilang “Masa sih? Mana?”. Mereka tidak tau bahwa sekawanan kecoak bercokol dekat dengan mereka.

Percaya atau tidak, bau ini bahkan ada tingkatannya. Semakin bau, dijamin semakin banyak kecoak yang bercokol disitu.

Entah memang ini berhubungan atau tidak dengan tertumpuknya sampah dengan liar di kota Bandung saat itu. Tetapi pada masa itu bentuk dialog sia-sia seperti tadi sering saya alami. Di kampus, di trotoar, tempat pecel ayam, warung rokok, depan kamar kosan, dan lemari kamar. Disela-sela bau sampah, sering nyempil bau kecoak yang orang-orang gak pernah sadar. Pada masa itu, ada satu malam dimana kami bermain gitar di kosan sambil duduk-duduk depan kamar. Sampai tiba-tiba ada rasa betis tertusuk duri/rumput yang lumayan bikin saya menggeliat. Rasanya persis dibagian dalam celana jeans. Refleks saya memukul daerah tertusuk tersebut dan menggaruk cepat sambil merasa aneh. “Kok ada jendolan?”. Kemudian si jendolan bergerak naik turun dengan tusukan-tusukan yang semakin banyak. Sambil memukul-mukul betis dengan panik saya melompat-lompat sambil pegang gitar. Entah bagaimana saya keliatannya waktu itu. Akhirnya si jendolan jatuh lewat lubang celana jeans dan ketahuan bahwa itu adalah kecoak kurang kerjaan. Kakinya sudah patah-patah. Sejak saat itulah saya menyatakan diri benci kecoak. Penuh dengan kesadaran seorang mahasiswa S1.

Benci itu beda lho ya sama geli dan takut. Dua teman kosan saya sangat takut dengan kecoak. Kalau kita lagi nonton DVD di kamar bersama-sama lalu ada kecoak terbang-terbang, mereka berdua balapan keluar kamar. Anehnya yang satu sambil tutup kuping. Mungkin menurut dia suara kecoak gak enak didengar. Saya sih belum pernah dengar. Dalam keadaan demikian senjata andalan saya cuma dua, yaitu sapu lidi dan baygon semprot. Bisa salah satu, tapi kalau keduanya digunakan bersamaan maka dijamin anda menang perang lawan kecoak.

Video diatas adalah video yang saya buat pada masa yang berdekatan dengan masa-masa peperangan saya dengan kecoak hampir setiap hari. Tidak ada yang aneh dalam video itu. Saya hanya menggambarkan keseharian saya dimana hampir setiap saya kemana aja selalu ngeliat kecoak. Bahkan di mall, dan di angkot. Karena saya menyatakan perang, sekalian saja saya buat seperti game Medal of Honor. Hanya pistolnya saya ganti dengan baygon semprot, dan para gerilyawan vietkong saya ganti dengan kecoak.

Dalam pembuatan video itu saya cuma modal baygon pribadi yang selalu tersedia di kamar. Kamera saya pinjam punya teman-teman Buton Culture. Modal lain adalah ongkos tenaga bibi kosan yang saya bayar Rp. 20.000,- untuk mengumpulkan kecoak sebanyak satu botol aqua penuh (1,5L). Kecoak-kecoak itu berhasil dikumpulan dengan tangkapan tangan hanya dalam setengah malam. Sekitar 40 kecoak hidup dalam botol aqua itu. Kemudian saya melepas dan memburu mereka.

Semoga anda bisa merasakan semangat yang sama dengan saya untuk tidak ragu-ragu membasmi kecoak. Mereka itu gak ada habisnya, sama kayak kerjaan kantor.

Video ini adalah salah satu hasil workshop dari Ruang Rupa yang berjudul OK Video Militia dimana mereka nyuruh orang-orang untuk buat video. Syukur-syukur ini video sempat dipamerin di salah satu museum di Australia yang saya juga bingung kenapa mereka bisa suka.

referensi lain:
http://www.ruangrupa.org/home/archives/2007/2007_04.html
http://www.engagemedia.org/Members/okvideo/videos/cock-rock-roach-xvid.avi/view

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s