Kesalahan Sistem Pendidikan

Judul tulisan ini bukanlah sebuah penilaian terhadap sistem pendidikan yang ada. Saya cuma mau cerita bahwa mungkin saja judul itu benar.

Pemikiran ini timbul pertama kali dalam sebuah seminar tentang IC3 (Internet and Computing Core Certification) dimana salah satu pembicara yang paling menarik saat itu bernama Prof. Eko Indrajit. Sang Profesor memberikan banyak sekali ilmu dalam satu jam presentasinya saat itu. Salah satunya adalah pertanyaan mengenai “Kenapa bangsa Indonesia ini sedikit sekali yang jadi pengusaha?”.

Saya akan coba ceritakan kembali dengan bahasa saya sendiri. Kalau ada kesalahan, mohon jangan ngomel ke Prof. Eko Indrajit tapi ke saya saja karena kurang tepat dalam menyampaikannya. Baiklah. Kira-kira begini kalau saya campur dengan apa yang berputar di kepala saya sembari mendengarkan:

Sedikitnya orang kita yang menjadi pengusaha itu berhubungan erat dengan sistem pendidikan yang ada. Coba kita ingat-ingat dari jaman kita sekolah sampai sekarang. Jam berapa kita harus sampai sekolah? Jam 7. Pakai baju apa kita? Seragam (kemeja pula). Boleh pakai sandal? Mana boleh. Semua harus pakai sepatu. Kebanyakan sepatunya pun harus warna hitam.

Kondisi seperti ini dijalankan selama berapa lama? Mari kita kaitkan sama umur. Masuk SD umur 6 tahun. Lulus SD sudah umur 12 tahun. Kemudian kita lanjutkan ke SMP 3 tahun dan lulus umur 15. 3 tahun setelahnya kita habiskan di SMA sampai berumur 18 tahun. Total 12 tahun sudah hidup kita habis dalam institusi yang namanya sekolah. Itu pun kalau lancar, tanpa tinggal kelas. Berlanjut kita masuk ke perkuliahan. Di tempat Sang Profesor mengajar, rata-rata mahasiswa dapat menyelesaikan perkuliahannya dalam waktu 5 tahun (kalau lancar). Sehingga dia bisa lulus pada umur 23 tahun. Setelah lulus barulah kita memasuki dunia kerja.

Sepanjang kita sekolah sampai kuliah tuntutan apa yang dikenakan kepada kita sebagai siswa/siswi? Saya bisa bilang kita dituntut untuk mendapat nilai yang bagus. Buat apa nilai itu? Supaya kita bisa diterima di SMP Negeri yang bagus. Supaya kita bisa diterima di SMA Negeri yang bagus. Supaya kita bisa diterima di Universitas Negeri yang bagus. Terakhir, IPK yang bagus bisa membuat kita diterima di Perusahaan BUMN, Perusahaan Multinasional,  Oil and Gas, dst.

Sampai disini sepakat? Inilah proses pada umumnya yang hampir pasti dialami oleh setiap kita yang hadir dalam ruangan seminar, bahkan mungkin setiap kita yang sedang membaca ini. Betul?

Lantas bagaimana hubungannya dengan Entrepreneurship atau kewirausahaan? Sekarang mari kita bahas lebih dalam.

Jadwal masuk sekolah. Seragam sekolah. Sepatu  sekolah. Upacara Bendera. Apapun yang kita temukan dalam sekolah itu pasti terkesan baik: agar disiplin. Kedisiplinan seperti ini apakah dibutuhkan oleh kehidupan kita kelak? Benarkah? Bangun pagi itu bagus. Tepat waktu itu bagus. Berpakaian rapi itu bagus. Tapi apakah harus seperti yang diajarkan sekolah? Saya bilang bangun sholat subuh itu bagus. Tepat waktu atas sebuah janji itu bagus. Berpakaian rapi juga bagus. Tapi kan pakaian bebas pun bisa rapi.

Apa saja yang kita pelajari di sekolah? Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Akuntansi, dan lain sebagainya. Itu semua berguna? Tentu saja! Tapi apakah perlu sampai terlalu dalam? Siapa sekarang yang menggunakan rumus-rumus pencampuran Kimia dalam kehidupan sehari-hari? Mungkin ya banyak. Tapi saya bukan salah satunya. Dan perlukah rumus kimia itu kita pelajari selama bertahun-tahun? Sedangkan ketika kuliah saya masuk Fakultas Ilmu Komunikasi sesuai minat saya. Dimana semua pengetahuan kimia tidak akan banyak berguna untuk mendongkrak nilai. Berapa banyak waktu dan tenaga yang sudah terbuang belajar Kimia dari kecil? Padahal seharusnya saya cukup belajar dasar-dasarnya saja, dan sisa waktunya saya gunakan untuk mempelajari Teori-teori Komunikasi yang saya sukai. Ketika kuliah ini juga saya harus mengumpulkan nilai bagus biar lulus dengan IPK bagus. Siapa yang butuh IPK bagus? Saya? Bukan. Perusahaan Bagus lah yang butuh punya pegawai dengan IPK bagus. Kalau IPK jelek siapa yang rugi menurut pandangan umum? Pasti si mahasiswa lah yang dianggap rugi. Padahal memangnya benar kita rugi begitu? Hehe. Padahal nggak juga lho. Sayangnya, kesan yang beredar di pola pikir orang kebanyakan begitu.

Sampai sini cukup sadar ‘kan kalau sistem sekolah itu mengarahkan siswanya untuk jadi pegawai di perusahaan bagus? Bahkan seringnya orang tua kita sendiri pun begitu. Pengen anaknya kerja di perusahaan bagus. Gak salah kok itu. Beneran deh. Tapi ya bukan jadi pengusaha.

Ada beberapa faktor yang dibutuhkan untuk jadi pengusaha. Modal uang? Pengetahuan/Pengalaman? Koneksi? Betul semua. Tapi ada lagi yang krusial, yaitu Keberanian, Kenekatan, dan Semangat. Coba kita pakai pola standar diatas. Kapan kita akan punya Modal? Mungkin setelah menabung 10 tahun kerja sebagai pegawai. Kapan punya pengetahuan/pengalaman? Sama, 10 tahun itu juga. Kapan punya koneksi? Sama juga. Berapa umur kita saat itu? 33 tahun (mulai jadi pegawai umur 23 pada saat lulus kuliah). Pada umur ini apakah kita masih punya Keberanian? Kenekatan? Semangat? Yakin…!?

Penelitian (yang sumbernya hanya saya ketahui dari cerita Sang Profesor) mengatakan bahwa keinginan menikah itu mayoritas timbul ketika usia 21 keatas. Ini didorong secara seksual yang tidak kuat menahan lama-lama. Norma di masyarakat kita yang tidak memperbolehkan seks bebas akhirnya mendorong untuk menikah dulu baru berhubungan seks. Mereka yang tidak tahan akhirnya memutuskan untuk menikah disekitaran umur 23-25 tahun. Usia setelah lulus kuliah dan bekerja 1-2 tahun. Setelah itu di usia 26-27 mereka punya anak. Keluarga kecil sudah terbentuk.  Kita berumur 33 tahun anak kita sudah saatnya disekolahkan dengan serius. Kalau sudah begini, berani nekat berenti kantor dan buka usaha sendiri? Hehe. Pasti akan berpikir panjang. Sangat panjang sampai akhirnya gak kesampe-sampean tuh usaha. Pikiran kita jadi Pragmatis. Monggo dicari-cari pengertiannya sendiri di google.

Jadi dimana Keberanian, Kenekatan, dan Semangat kita itu? Mari kita coba inget-inget. Waktu pertama kali nembak pacar itu di umur berapa? Saya sih umur 15. Kapan pertama kali kita berantem atau ikut tawuran? Saya sih masa-masa itu waktu berumur 14-17. Kapan pertama kali kita merasakan semangat persaingan dan membela idealisme setinggi-tingginya? Pasti waktu kuliah. Ya kan? Sayangnya ketika kita memiliki itu semua, kita sedang berada di bangku sekolah. Hanya memikirkan nilai. Hanya memikirkan mau masuk Universitas A, dan diterima Perusahaan B. Apa yang akan terjadi kalau waktu itu kita sudah diarahkan dan memikirkan tentang membuka lapangan kerja coba? Apa yang terjadi kalau di umur-umur itu kita sudah mulai mengumpulkan modal, pengalaman, dan koneksi? Apa yang terjadi kalau sistem pendidikan yang ada itu berbeda? Kalau saya mulai di umur 15 (umur waktu saya berani nembak pacar) bisa-bisa di umur 25  saya sudah punya ketiganya dan sudah memulai usaha. Dalam waktu 8 tahun – umur saya 33 tahun – usaha itu sudah berkembang seperti apa? Coba bandingkan dengan pola pendidikan standar yang baru mau mulai usaha di umur yang sama (33), dengan pikiran yang pragmatis. Boleh kok kalau mau menyangkal. Saya coba lanjut cerita pakai contoh:

1. Teman dekat saya, kita panggil saja Dave.

Anak pertama dari 3 bersaudara. Ayah keturunan Jepang murni, dan Ibu Batak. Ayahnya pengusaha yang pernah mengelola apartemen di Jakarta. Tertipu oleh rekan bisnisnya dan kemudian bangkrut. Pada masa-masa peralihan dari ekonomi kaya ke ekonomi apa adanya ini Dave berkuliah di Bandung yang tidak sesuai passion. Kuliah ini hanyalah kelanjutan dari pola pendidikan standarnya. Di awal tahun keduanya berkuliah, beruntung keluarganya makin bangkrut. Saya bilang beruntung karena itu akhirnya menjadi titik balik hidupnya dia. Orangtuanya sudah tidak sanggup membiayai dia hidup di Bandung. Kuliah drop out. Kosan ditinggalkan tiba-tiba krn tidak bisa bayar, dan semua barang-barang TV, tape, DVD player, baju, lemari, semua disita untuk ganti bayar kos yang berbulan-bulan nunggak. 2 tahun anak ini hilang kontak dengan saya. Telepon ke rumah gak nyambung. Rumah didatengin pun percuma karena sudah kosong dijual. Setelah itu sempat komunikasi via telepon dan email. Dia sekedar minta tolong untuk simpan ijasah SMA nya dan koleksi CD musik yang disita oleh ibu kos.

Ketika saya lulus kuliah akhirnya dia menghubungi saya untuk main ke gerobak dagangannya di Bintaro. Wah ternyata dia buka usauha. 4 tahun sisa waktu yang seharusnya dipakai untuk dia kuliah, dipakai untuk belajar masak masakan Jepang dan belajar berjualan dari sana-sini. Sambil melatih hobinya bermain musik dan menggambar. Waktu saya datang pertama kali, dia sedang menghibur pelanggan yang datang dengan permainan gitarnya. Rekan bisnisnya mengantar makanan dan menerima pembayaran ke siapapun yang makan ditempat. 1 orang pegawainya mengipas-ngipas sate kalkun dan nasi kepal. Pendatangnya ramai. Saya ikut nongkrong tanpa membeli sampai gerobak dorongnya tutup. Mereka pun membagi-bagi penghasilan. Sebagian untuk rekannya, sebagian gaji harian pegawainya, sebagian lagi untuk belanja, dan sebagian untuk dirinya sendiri. Pendapatan bersih untuk dirinya sendiri sekitar 500 ribu malam itu. Dan yang membuat saya kaget adalah jumlah itu ternyata pendapatan normalnya setiap hari. Sehari segitu, berapa sebulan? Segitulah pendapatan orang yang umurnya hanya setahun diatas saya. Sedangkan gaji saya saat itu yang sangat saya syukuri? 1,5 juta sebulan. Orang yang tidak selesai kuliah berpenghasilan 10 kali lebih banyak dari saya.

Sekarang Dave punya restoran Jepang sendiri di Bintaro, dengan cabang di Melawai. Cabang di UPH sedang dibangun, begitu juga dengan cabangnya di Karawaci. Si gerobak masih tetap mangkal.

2. Teman sekelas waktu kelas 1 SMA. Kita panggil saja dia R.

Anak ini tidak terlalu pintar di sekolah dalam artian nilainya selalu jelek. Tapi dia punya selera musik yang sangat bagus. Dan entah bagaimana saya tau dia ini pintar dalam hal-hal di luar sekolah, seperti bermain musik, menggambar, berteman, main game, dsb. Waktu kelas 2 dia terkena masalah pidana sehingga harus masuk bui dan menghilang dari sekolah. Kelas 3 dia bisa lulus walau harus ngepot sana-sini dengan nilai pas-pasan. Tidak diterima di kampus manapun kecuali yang harus bayar mahal. Untungnya keluarganya cukup berada. Walaupun demikian, dia kuliah bukan untuk mencari nilai, tapi untuk mengumpulkan informasi dan koneksi sebanyak-banyaknya bagaimana dia menjalankan hal yang dia suka, sambil terus melatih hobinya di fotografi, desain, dan videografi. Kuliahnya berantakan. Secara psikologis anak ini sangat pemberontak dan tidak suka diatur. Mustahil dia bisa bekerja di perusahaan yang bagus. Kepepet karena gak dapet-dapet kerja akhirnya dia nekat minjem duit dan membuka usaha sendiri. Karena dia sudah mencicil selama kuliah 5 tahun itu, tidak susah buat dia membuka PH sendiri dengan bantuan dana yang ada. Klien langsung dapet karena punya koneksi yang didapet waktu kuliah. Perusahaan air mineral terbesar pula. Itu tuh, yang ada botol kaca premiumnya. Kontraknya miliaran, dan dia CEO nya. Seumur dengan saya, tapi jadi CEO dengan proyek miliaran. Lebih-lebih dulu saya lebih berprestasi di sekolah dibanding dia.

3. Teman sekelas juga waktu bareng si R. Kita panggil dia Bedul.

Latar belakang kurang lebih sama dengan si R tanpa masuk bui. Tapi saya sama sekali tidak melihat kelebihan anak ini selain suka main bola dan sangat baik hati. Nilai sekolah tidak pernah bagus. Jago mencontek. Lulus dengan nilai pas-pasan. Tidak diterima di kampus manapun dan tidak punya back up keluarga yang berharta. Karena tidak berkuliah ini, waktunya dihabiskan untuk membuka usaha fotokopi dan print di depan kampus UKI. Tempat seukuran 3 x 3 meter jadi usahanya. Hanya bermodalkan 2 komputer dan 2 printer (bekas jaman SMA), sama 1 mesin fotokopi bekas. 5 tahun waktu kuliahnya difokuskan pada usaha ini. Dan sekarang dia sudah buka franchise atas usaha percetakan ini. Pegawai di depan UKI sudah 20 orang lebih, dan penghasilan bersihnya sebulan 15-20 juta. “Lo tau gue kan ji, siapa yang mau hire orang kaya gue coba? Cengangas cengenges. hahaha. Tapi disini gwe dapet penghasilan segitu. Gak akan ada orang lain yang  mau bayar gue segitu kecuali kalo gue jadi anggota DPR. Lo punya tempat kosong gak ji? Gue pasangin sistem percetakan gue aja. Lo gue kasih diskon spesial untuk beli franchise gue” Hehe. Sayangnya gue gak punya duitnya ‘Dul.

4. Kakak Kelas yang menghamili anak orang. Kita panggil saja H.

Tidak terlalu bagus nilainya di sekolah seperti R dan Bedul. Sering terlibat kasus perkelahian. Tidak sengaja menghamili anak orang dan menghilang ke Bandung sama istri dan anaknya ini. Dengan adanya tuntutan anak dan istri, dia terpaksa tidak kuliah. Pinjam modal ke bapaknya untuk membuat satu kios handphone di BEC. Ketika saya tidak sengaja ketemu dia pas lagi mau beli handphone, kita ngobrol sedikit dan dia kasih saya harga handphone spesial padahal barangnya jarang. Ternyata beberapa toko dalam deretan di lantai itu adalah punya dia semua, total waktu itu dia punya 8 kios handphone dengan pegawai sekitar 20. Entah berapa penghasilannya.

Keempat orang itu adala teman saya yang sudah mulai merintis usahanya ketika saya sedang sibuk mengejar nilai di Universitas.

5. Teman musisi di Bandung. Kita panggil saja Onta.

Kuliah berantakan. Kegiatan getting high melulu. Hobi main musik noise yang hanya bisa dinikmati sama dirinya sendiri. Tapi tekun main musiknya. Waktu TA di Itenas, dia bikin komik wayang yang sebenarnya itu TA dibikinin sama kita-kita dengan niat juga iseng-iseng karena doyan gambar. Waktu kuliahnya bukan dipakai untuk cari nilai, tapi seneng-seneng ngamen main musik noise sana-sini dan nongkrong dan berteman sambil getting high. Sekarang dia Creative Director salah satu advertising agency multinasional terbesar di Indonesia. Padahal dulu keliatan hidupnya gak beres dan nilai gak mendukung.

6. Mantan bos saya. Kita panggil saja si Bos.

Saya kurang tau latar belakangnya dengan detil. Tapi dalam satu pembicaraan telepon dia bilang begini: “Gilang, buat apa kamu tukar masa bakti 4 tahun di perusahaan demi sekolah S2? S2 itu murah lho. Sorry to say, tapi itu cuman 50-60 juta. Dalam waktu 4 tahun itu bahkan kamu bisa dapetin lebih dari sekedar titel dan uang 50-60 juta lho. Coba, berapa kesempatan bekerja di perusahaan besar yang bisa kamu dapat kalau kamu rajin ngelamar? Berapa kesempatan bisnis yang bisa kamu jalanin dalam 4 tahun? Berapa uang yang bisa kamu tabung plus bonus dan komisi yang kamu dapet? Berapa waktu yang bisa kamu habiskan sama keluarga dibanding kalau kamu kuliah sambil bekerja? Sekarang umur kamu 26, itu masih muda! Mana yang lebih urgent butuh titel, kamu atau saya? Saya direktur berusia 40 tahun dan saya belum punya titel apapun! Saya yang lebih urgent butuh titel. Masa direktur belom punya titel? kalah sama anak buahnya. Yah tapi terserah kamu sih, saya cuma kasih pandangan. Bahwa saya berhasil dengan menjadi direktur dulu, baru sekarang saya pikirin kuliah. Saya pikir sayang aja kalau orang kayak kamu terjebak di perkuliahan padahal kamu bisa mendapatkan yang lain banyak sekali.”

Begitulah. Ini hanya sebuah pemikiran. Bukan saran atau sugesti. Bukan juga jalan yang akan saya ambil (toh waktunya sudah lewat juga). Ini hanya sebuah pemikiran yang mungkin saja dibaca adik-adik SMA yang masih 15-17 tahun dengan semangat dan passion yang besar akan idealismenya dan berpandangan diluar jalur. Jangan bermimpi jadi pegawai ya. Bermimpilah jadi orang yang menciptakan lapangan kerja.

Buat yang seusia saya dan baru menyadari hal-hal seperti ini. Kita enaknya ngapain ya? Haha.

Ini ada video dari Pink Floyd. Silahkan dinikmati.

*Wow. Tulisan ini jadi kepanjangan. Mungkin nanti saya akan coba pecah jadi beberapa bagian, kalau ada waktu. Terima kasih sudah membaca. Terima kasih Prof. Eko Indrajit yang sudah memberi ilmu pada saya yang bukan mahasiswanya.

Iklan

3 Comments

  1. Sharing yang bagus, Ji. Coba di-ingat2 lagi, apa cita2 loe 🙂

    Sebenarnya, kita ga bisa menyalahkan sistem pendidikan. Klo gw selalu pake konsep 70:20:10. Pendidikan itu hanya porsi’nya 10% aja dari hidup kita (coba itung, benar ga? bahkan kita dalam lingkungan kerja). 20% itu adalah lingkungan kerja dan keluarga di mana kita mendapatkan input/feedback langsung yang berharga dari situ (karena ada yang care utk perkembangan kita, mereka mo kita menjadi lebih baik. Namun sekali lagi, porsinya ga besar.). 70% adalah lingkungan hidup sosial yang kita jalani sehari2 dengan penuh kebosanan dan monoton (yang parahnya, kita jadikan sebagai raw model dari hidup kita).

    Yang gw hanya bisa bilang itu adalah – semua kembali ke pribadi masing2. Menurut gw, entrepreneurship / entrepreneurial is natural born talent. Ga bisa diajarkan dan dipelajari, hanya bisa diasah dari pengalaman pribadi. Benar2 dari pengalaman pribadi, ga bisa based-on pengalaman orang lain juga.

    Mengenai modal menjadi entrepreneur, coba baca tulisan ini.. http://www.inc.com/eric-schurenberg/the-best-definition-of-entepreneurship.html. Coba subscribe juga newsletter’nya. Tiap hari ada banyak artikel bagus..

    Gw suka dgn pengertian entrepreneur yang dipaparkan di situ. Keberanian, kenekatan, dan semangat yang loe maksud memang penting, tapi bukan berarti bahwa seorang entrepreneur itu memiliki “a personality disorder, a kind of risk addiction.” seperti yang ditulis di artikel situ. Bahkan klo boleh dibilang, entrepreneur itu orang yang sangat pelit, expecting high return, low risk, demanding, committed, passionate, creative, innovative, .. dgn segala hal yang diputuskan dan dilakukan. Sebenarnya mereka sangatlah perhitungan orang’nya. Coba dipikir baik2.

    “Entrepreneurship is the pursuit of opportunity without regard to resources currently controlled. They see an opportunity and don’t feel constrained from pursuing it because they lack resources. They’re used to making do without resources.” Itu lah yang membedakan entrepreneur (dari yang ga ada menjadi ada dgn visi yang tajam dan kerja keras) dgn seorang manager, general manager ato direktur secara umum (yang pada umumnya semata2 hanya menjadi business administrator, mengelola sumber daya yang sudah ada).

    Coba perhatikan kutipan terakhir ini:
    “Every time you want to make any important decision, there are two possible courses of action. You can look at the array of choices that present themselves, pick the best available option and try to make it fit. Or, you can do what the true entrepreneur does: Figure out the best conceivable option and then make it available.”

    Jadi kita jangan mau berkata “engga bisa”, “lagi padat sekali”, “lagi sibuk semua”, “susah diajak kerjasama” – it’s business admin mindset. Sebaliknya, pikirkan jalannya agar solusi bisa muncul, agar pemikiran jadi terbuka dan tidak terjebak dgn keadaan. Pikirkan dari sudut pandang yang lain, yang berbeda dgn orang pada awam’nya agar kita ga menjadi biasa-biasa aja. Yup, akan dibutuhkan tenaga dan pikiran lebih, itu so pasti klo mmg mo jadi seorang enterpreneur. Klo jadi seorang admin, hanya pasrah pada keadaan dan menjalankan job desc ato mengikuti arus aja.

    Gw pikir itu yang bisa gw share, semoga bermanfaat buat Eji maupun pembaca yang lain. Semoga Eji ga bosan2 dgn “ceramah” gw dan pemikiran gw yg “aneh2” dan “berlebihan”. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s