Kekekalan Energi

Rasanya kita semua pernah dengar esensi Hukum Kekekalan Energi yang pernah dipelajari dulu waktu belajar ilmu fisika di Sekolah Menengah Pertama (SMP):

Bahwa suatu energi tidak akan pernah hilang, tapi ia hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lainnya. Dia bukanlah sesuatu yang diciptakan, dan dia bukanlah sesuatu yang bisa dihilangkan. Dia hanya bisa dirubah, dengan suatu usaha yang disengaja ataupun tidak disengaja.

Kira-kira begitu hukumnya kalau saya tidak salah ingat. Google, dengan ketuhanannya di dunia maya mampu menjelaskan lebih banyak mengenai teori ini dibanding saya. Mohon coba tanya ke beliau ya kalau mau tau lebih banyak. Karena yang mau saya ceritakan disini adalah teori yang saya temukan sejenis (hampir sama) yang tidak diajarkan di sekolah, setidaknya pada jaman saya:

Apapun yang manusia lakukan pada suatu waktu adalah akibat dari suatu perlakuan manusia (lain) sebelumnya. Apa yang manusia tersebut lakukan tidak akan hilang atau berhenti pada waktu tersebut, melainkan hanya akan berubah menjadi perlakuan lainnya yang dilakukan oleh manusia yang lain. – Eji

Seperti estafet. Hanya saja tongkatnya bisa kita modifikasi sedikit-sedikit sebelum kita oper untuk kemudian dimodifikasi kembali dan dioper lagi.

Sebagai contoh, kalau pagi ini saya palak anak SD dan saya jitakin kepalanya, maka mungkin dia akan berlari pulang untuk mengadu ke ibunya, lalu ibunya mengadu ke bapaknya yang ternyata preman pasar, kemudian dia kirim anak buah untuk mukulin saya. Sayangnya salah sasaran sehingga tetangga saya yang dipukulin dan gak sengaja meninggal. Keluarganya akan sangat sedih dan melapor polisi sehingga para pelaku diincar polisi. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Dalam ilustrasi tersebut apa yang saya lakukan mempengaruhi perlakuan orang-orang yang lain secara tidak langsung. Tapi mempengaruhi. Energi yang saya buang untuk menjitak anak itu terus berpindah dan berubah tanpa ada habisnya, dan sangat mungkin energi tersebut akan kembali kepada saya. Klise kan? yeah i know.

Mungkin anda akan dapat lebih memahami jika anda juga mengalami yang saya alami sebelumnya sehingga saya sadar tentang kekekalan energi ini. Yaitu dengan menonton beberapa film.

Persoalan Kekekalan Energi ini melintas setelah saya menonton Cloud Atlas (2012, aktor: Tom Hanks) yang entah bagaimana, seperti menyimpulkan dua film terdahulu yang saya pikir ada benang merahnya, yaitu The Butterfly Effect (2004, aktor: Ashton Kutcher), dan Lady in the Water (2006, sutradara: M. Night Shyamalan). Ketiganya saya tonton pada masa yang berbeda namun memberikan rasa mengelitik yang sama: Apa yang kita lakukan akan jadi penyebab atas perlakuan yang lain dari orang lain. Lebih luas dari sekedar hubungan sebab-akibat.

Pesan ini disampaikan dalam bentuk dan sudut pandang yang sangat berbeda oleh setiap film, tetapi secara kebetulan saling melengkapi. The Butterfly Effect memberikan contoh ilustratif, Lady in the Water memberikan esensi teorinya, dan Cloud Atlas memberikan contoh aplikasi teori. (Pembaca yang belum pernah nonton atau lupa ceritanya, pasti akan susah ngerti maksud penjelasan-penjelasan selanjutnya. Nonton lagi deh. Recommended movies kok itu semuanya. Hehe.)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s