Kekekalan Energi

Rasanya kita semua pernah dengar esensi Hukum Kekekalan Energi yang pernah dipelajari dulu waktu belajar ilmu fisika di Sekolah Menengah Pertama (SMP):

Bahwa suatu energi tidak akan pernah hilang, tapi ia hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lainnya. Dia bukanlah sesuatu yang diciptakan, dan dia bukanlah sesuatu yang bisa dihilangkan. Dia hanya bisa dirubah, dengan suatu usaha yang disengaja ataupun tidak disengaja.

Kira-kira begitu hukumnya kalau saya tidak salah ingat. Google, dengan ketuhanannya di dunia maya mampu menjelaskan lebih banyak mengenai teori ini dibanding saya. Mohon coba tanya ke beliau ya kalau mau tau lebih banyak. Karena yang mau saya ceritakan disini adalah teori yang saya temukan sejenis (hampir sama) yang tidak diajarkan di sekolah, setidaknya pada jaman saya:

Apapun yang manusia lakukan pada suatu waktu adalah akibat dari suatu perlakuan manusia (lain) sebelumnya. Apa yang manusia tersebut lakukan tidak akan hilang atau berhenti pada waktu tersebut, melainkan hanya akan berubah menjadi perlakuan lainnya yang dilakukan oleh manusia yang lain. – Eji

Seperti estafet. Hanya saja tongkatnya bisa kita modifikasi sedikit-sedikit sebelum kita oper untuk kemudian dimodifikasi kembali dan dioper lagi.

Sebagai contoh, kalau pagi ini saya palak anak SD dan saya jitakin kepalanya, maka mungkin dia akan berlari pulang untuk mengadu ke ibunya, lalu ibunya mengadu ke bapaknya yang ternyata preman pasar, kemudian dia kirim anak buah untuk mukulin saya. Sayangnya salah sasaran sehingga tetangga saya yang dipukulin dan gak sengaja meninggal. Keluarganya akan sangat sedih dan melapor polisi sehingga para pelaku diincar polisi. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Dalam ilustrasi tersebut apa yang saya lakukan mempengaruhi perlakuan orang-orang yang lain secara tidak langsung. Tapi mempengaruhi. Energi yang saya buang untuk menjitak anak itu terus berpindah dan berubah tanpa ada habisnya, dan sangat mungkin energi tersebut akan kembali kepada saya. Klise kan? yeah i know.

Mungkin anda akan dapat lebih memahami jika anda juga mengalami yang saya alami sebelumnya sehingga saya sadar tentang kekekalan energi ini. Yaitu dengan menonton beberapa film.

Persoalan Kekekalan Energi ini melintas setelah saya menonton Cloud Atlas (2012, aktor: Tom Hanks) yang entah bagaimana, seperti menyimpulkan dua film terdahulu yang saya pikir ada benang merahnya, yaitu The Butterfly Effect (2004, aktor: Ashton Kutcher), dan Lady in the Water (2006, sutradara: M. Night Shyamalan). Ketiganya saya tonton pada masa yang berbeda namun memberikan rasa mengelitik yang sama: Apa yang kita lakukan akan jadi penyebab atas perlakuan yang lain dari orang lain. Lebih luas dari sekedar hubungan sebab-akibat.

Pesan ini disampaikan dalam bentuk dan sudut pandang yang sangat berbeda oleh setiap film, tetapi secara kebetulan saling melengkapi. The Butterfly Effect memberikan contoh ilustratif, Lady in the Water memberikan esensi teorinya, dan Cloud Atlas memberikan contoh aplikasi teori. (Pembaca yang belum pernah nonton atau lupa ceritanya, pasti akan susah ngerti maksud penjelasan-penjelasan selanjutnya. Nonton lagi deh. Recommended movies kok itu semuanya. Hehe.)

Kalau kamu saat ini berumur sekitar 27-30 tahun, dan ditanya apa cita-cita kamu, apa kamu bisa menjawab? Seandainya kamu pikir bisa menjawab, apa jawaban kamu? Apakah jawaban itu benar-benar cita-cita kamu? Atau hanya jawaban umum saja seperti “Ingin membahagiakan orang tua”, atau “Ingin hidup bahagia”, atau “Ingin berguna bagi orang banyak”? Kita harus sepakat bahwa bukan itu yang dimaksud dengan Cita-Cita disini. Saya berbicara tentang cita-cita sebagai “what you’ll become”, bukan “what you wish to happen“.

Saya pernah ditanya dan kesulitan untuk menjawab itu. Saya ingat pernah ingin menjadi musisi, karena influence yang sangat besar dari Ayah yang musisi. Kemudian ingat ingin menjadi dokter karena tergoda dengan kemapanan yang dicontohkan oleh Uwak saya yang seorang dokter. Tapi kemudian saya ragu untuk menjawab ingin menjadi musisi atau dokter, karena yang saya lakukan dan kerjakan pada saat itu sama sekali tidak ada hubungannya. Saya lulusan Komunikasi yang bekerja di perusahaan IT, sudah menikah dan dikaruniai dua orang anak. Konyol rasanya kalau saya masih mau menjadi musisi atau dokter. Mau kasih makan anak istri apa kalau saya menempuh jalan musisi dengan skill pas-pasan? Mana bisa juga ujug-ujug kuliah kedokteran tanpa ada pemasukan menghidupi anak istri? Tanpa sadar, saya sudah menjadi orang yang hidup dengan pola standar: kerja jadi pegawai – nikah – punya anak – sekolahin anak – nikahin anak – punya cucu – pensiun – terus mati, dan bukan sebagai musisi atau dokter. Sounds familiar?

Begitulah pertanyaan tentang istilah simpel yang waktu SD dulu kita bisa jawab dengan lantang (“Saya mau jadi Presiden, Bu!” atau “Saya mau jadi Astronot, Bu!”) bernama Cita-Cita, menjadi salah satu pertanyaan yang paling rumit untuk dijawab. Saya yakin sebagian besar dari kamu juga kesulitan menjawab ini. Hayo jujur.

Indonesia Bagus

Indonesia bukan milik suatu golongan. Bhineka Tunggal Ika. Ia dirancang untuk menyatukan berbagai perbedaan. Toleransi yang luar biasa untuk tujuan bersama.

Prinsip tersebut saat ini terancam dengan bualan-bualan membakar di socmed yang begitu saja ditelan oleh pikiran-pikiran sempit dan pendek yang membuat hidup tidak nyaman. Tapi saya yakin prinsip tersebut terus turun kepada generasi kita dan banyak yang terus memimpikan Indonesia yang ideal, sebagaimana awal dia dirancang.

Para penerus ini pantang menyerah. Mereka akan terus percaya dan menyatukan perbedaan ini kembali. Seperti kami yang mengucapkan selamat kepada mereka yang merayakan.

“Selamat Natal untuk semua teman dan saudaraku tercinta yang merayakan!”

– Eji (muslim)

View on Path

Kesalahan Sistem Pendidikan

Judul tulisan ini bukanlah sebuah penilaian terhadap sistem pendidikan yang ada. Saya cuma mau cerita bahwa mungkin saja judul itu benar.

Pemikiran ini timbul pertama kali dalam sebuah seminar tentang IC3 (Internet and Computing Core Certification) dimana salah satu pembicara yang paling menarik saat itu bernama Prof. Eko Indrajit. Sang Profesor memberikan banyak sekali ilmu dalam satu jam presentasinya saat itu. Salah satunya adalah pertanyaan mengenai “Kenapa bangsa Indonesia ini sedikit sekali yang jadi pengusaha?”.

Saya akan coba ceritakan kembali dengan bahasa saya sendiri. Kalau ada kesalahan, mohon jangan ngomel ke Prof. Eko Indrajit tapi ke saya saja karena kurang tepat dalam menyampaikannya. Baiklah. Kira-kira begini kalau saya campur dengan apa yang berputar di kepala saya sembari mendengarkan:

Sedikitnya orang kita yang menjadi pengusaha itu berhubungan erat dengan sistem pendidikan yang ada. Coba kita ingat-ingat dari jaman kita sekolah sampai sekarang. Jam berapa kita harus sampai sekolah? Jam 7. Pakai baju apa kita? Seragam (kemeja pula). Boleh pakai sandal? Mana boleh. Semua harus pakai sepatu. Kebanyakan sepatunya pun harus warna hitam.

Kondisi seperti ini dijalankan selama berapa lama? Mari kita kaitkan sama umur. Masuk SD umur 6 tahun. Lulus SD sudah umur 12 tahun. Kemudian kita lanjutkan ke SMP 3 tahun dan lulus umur 15. 3 tahun setelahnya kita habiskan di SMA sampai berumur 18 tahun. Total 12 tahun sudah hidup kita habis dalam institusi yang namanya sekolah. Itu pun kalau lancar, tanpa tinggal kelas. Berlanjut kita masuk ke perkuliahan. Di tempat Sang Profesor mengajar, rata-rata mahasiswa dapat menyelesaikan perkuliahannya dalam waktu 5 tahun (kalau lancar). Sehingga dia bisa lulus pada umur 23 tahun. Setelah lulus barulah kita memasuki dunia kerja.

Sepanjang kita sekolah sampai kuliah tuntutan apa yang dikenakan kepada kita sebagai siswa/siswi? Saya bisa bilang kita dituntut untuk mendapat nilai yang bagus. Buat apa nilai itu? Supaya kita bisa diterima di SMP Negeri yang bagus. Supaya kita bisa diterima di SMA Negeri yang bagus. Supaya kita bisa diterima di Universitas Negeri yang bagus. Terakhir, IPK yang bagus bisa membuat kita diterima di Perusahaan BUMN, Perusahaan Multinasional,  Oil and Gas, dst.

Sampai disini sepakat? Inilah proses pada umumnya yang hampir pasti dialami oleh setiap kita yang hadir dalam ruangan seminar, bahkan mungkin setiap kita yang sedang membaca ini. Betul?

Lantas bagaimana hubungannya dengan Entrepreneurship atau kewirausahaan? Sekarang mari kita bahas lebih dalam.

Jadwal masuk sekolah. Seragam sekolah. Sepatu  sekolah. Upacara Bendera. Apapun yang kita temukan dalam sekolah itu pasti terkesan baik: agar disiplin. Kedisiplinan seperti ini apakah dibutuhkan oleh kehidupan kita kelak? Benarkah? Bangun pagi itu bagus. Tepat waktu itu bagus. Berpakaian rapi itu bagus. Tapi apakah harus seperti yang diajarkan sekolah? Saya bilang bangun sholat subuh itu bagus. Tepat waktu atas sebuah janji itu bagus. Berpakaian rapi juga bagus. Tapi kan pakaian bebas pun bisa rapi.

Apa saja yang kita pelajari di sekolah? Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Akuntansi, dan lain sebagainya. Itu semua berguna? Tentu saja! Tapi apakah perlu sampai terlalu dalam? Siapa sekarang yang menggunakan rumus-rumus pencampuran Kimia dalam kehidupan sehari-hari? Mungkin ya banyak. Tapi saya bukan salah satunya. Dan perlukah rumus kimia itu kita pelajari selama bertahun-tahun? Sedangkan ketika kuliah saya masuk Fakultas Ilmu Komunikasi sesuai minat saya. Dimana semua pengetahuan kimia tidak akan banyak berguna untuk mendongkrak nilai. Berapa banyak waktu dan tenaga yang sudah terbuang belajar Kimia dari kecil? Padahal seharusnya saya cukup belajar dasar-dasarnya saja, dan sisa waktunya saya gunakan untuk mempelajari Teori-teori Komunikasi yang saya sukai. Ketika kuliah ini juga saya harus mengumpulkan nilai bagus biar lulus dengan IPK bagus. Siapa yang butuh IPK bagus? Saya? Bukan. Perusahaan Bagus lah yang butuh punya pegawai dengan IPK bagus. Kalau IPK jelek siapa yang rugi menurut pandangan umum? Pasti si mahasiswa lah yang dianggap rugi. Padahal memangnya benar kita rugi begitu? Hehe. Padahal nggak juga lho. Sayangnya, kesan yang beredar di pola pikir orang kebanyakan begitu.

Sampai sini cukup sadar ‘kan kalau sistem sekolah itu mengarahkan siswanya untuk jadi pegawai di perusahaan bagus? Bahkan seringnya orang tua kita sendiri pun begitu. Pengen anaknya kerja di perusahaan bagus. Gak salah kok itu. Beneran deh. Tapi ya bukan jadi pengusaha.

Ada beberapa faktor yang dibutuhkan untuk jadi pengusaha. Modal uang? Pengetahuan/Pengalaman? Koneksi? Betul semua. Tapi ada lagi yang krusial, yaitu Keberanian, Kenekatan, dan Semangat. Coba kita pakai pola standar diatas. Kapan kita akan punya Modal? Mungkin setelah menabung 10 tahun kerja sebagai pegawai. Kapan punya pengetahuan/pengalaman? Sama, 10 tahun itu juga. Kapan punya koneksi? Sama juga. Berapa umur kita saat itu? 33 tahun (mulai jadi pegawai umur 23 pada saat lulus kuliah). Pada umur ini apakah kita masih punya Keberanian? Kenekatan? Semangat? Yakin…!?

Penelitian (yang sumbernya hanya saya ketahui dari cerita Sang Profesor) mengatakan bahwa keinginan menikah itu mayoritas timbul ketika usia 21 keatas. Ini didorong secara seksual yang tidak kuat menahan lama-lama. Norma di masyarakat kita yang tidak memperbolehkan seks bebas akhirnya mendorong untuk menikah dulu baru berhubungan seks. Mereka yang tidak tahan akhirnya memutuskan untuk menikah disekitaran umur 23-25 tahun. Usia setelah lulus kuliah dan bekerja 1-2 tahun. Setelah itu di usia 26-27 mereka punya anak. Keluarga kecil sudah terbentuk.  Kita berumur 33 tahun anak kita sudah saatnya disekolahkan dengan serius. Kalau sudah begini, berani nekat berenti kantor dan buka usaha sendiri? Hehe. Pasti akan berpikir panjang. Sangat panjang sampai akhirnya gak kesampe-sampean tuh usaha. Pikiran kita jadi Pragmatis. Monggo dicari-cari pengertiannya sendiri di google.

Jadi dimana Keberanian, Kenekatan, dan Semangat kita itu? Mari kita coba inget-inget. Waktu pertama kali nembak pacar itu di umur berapa? Saya sih umur 15. Kapan pertama kali kita berantem atau ikut tawuran? Saya sih masa-masa itu waktu berumur 14-17. Kapan pertama kali kita merasakan semangat persaingan dan membela idealisme setinggi-tingginya? Pasti waktu kuliah. Ya kan? Sayangnya ketika kita memiliki itu semua, kita sedang berada di bangku sekolah. Hanya memikirkan nilai. Hanya memikirkan mau masuk Universitas A, dan diterima Perusahaan B. Apa yang akan terjadi kalau waktu itu kita sudah diarahkan dan memikirkan tentang membuka lapangan kerja coba? Apa yang terjadi kalau di umur-umur itu kita sudah mulai mengumpulkan modal, pengalaman, dan koneksi? Apa yang terjadi kalau sistem pendidikan yang ada itu berbeda? Kalau saya mulai di umur 15 (umur waktu saya berani nembak pacar) bisa-bisa di umur 25  saya sudah punya ketiganya dan sudah memulai usaha. Dalam waktu 8 tahun – umur saya 33 tahun – usaha itu sudah berkembang seperti apa? Coba bandingkan dengan pola pendidikan standar yang baru mau mulai usaha di umur yang sama (33), dengan pikiran yang pragmatis. Boleh kok kalau mau menyangkal. Saya coba lanjut cerita pakai contoh:

1. Teman dekat saya, kita panggil saja Dave.

Anak pertama dari 3 bersaudara. Ayah keturunan Jepang murni, dan Ibu Batak. Ayahnya pengusaha yang pernah mengelola apartemen di Jakarta. Tertipu oleh rekan bisnisnya dan kemudian bangkrut. Pada masa-masa peralihan dari ekonomi kaya ke ekonomi apa adanya ini Dave berkuliah di Bandung yang tidak sesuai passion. Kuliah ini hanyalah kelanjutan dari pola pendidikan standarnya. Di awal tahun keduanya berkuliah, beruntung keluarganya makin bangkrut. Saya bilang beruntung karena itu akhirnya menjadi titik balik hidupnya dia. Orangtuanya sudah tidak sanggup membiayai dia hidup di Bandung. Kuliah drop out. Kosan ditinggalkan tiba-tiba krn tidak bisa bayar, dan semua barang-barang TV, tape, DVD player, baju, lemari, semua disita untuk ganti bayar kos yang berbulan-bulan nunggak. 2 tahun anak ini hilang kontak dengan saya. Telepon ke rumah gak nyambung. Rumah didatengin pun percuma karena sudah kosong dijual. Setelah itu sempat komunikasi via telepon dan email. Dia sekedar minta tolong untuk simpan ijasah SMA nya dan koleksi CD musik yang disita oleh ibu kos.

Ketika saya lulus kuliah akhirnya dia menghubungi saya untuk main ke gerobak dagangannya di Bintaro. Wah ternyata dia buka usauha. 4 tahun sisa waktu yang seharusnya dipakai untuk dia kuliah, dipakai untuk belajar masak masakan Jepang dan belajar berjualan dari sana-sini. Sambil melatih hobinya bermain musik dan menggambar. Waktu saya datang pertama kali, dia sedang menghibur pelanggan yang datang dengan permainan gitarnya. Rekan bisnisnya mengantar makanan dan menerima pembayaran ke siapapun yang makan ditempat. 1 orang pegawainya mengipas-ngipas sate kalkun dan nasi kepal. Pendatangnya ramai. Saya ikut nongkrong tanpa membeli sampai gerobak dorongnya tutup. Mereka pun membagi-bagi penghasilan. Sebagian untuk rekannya, sebagian gaji harian pegawainya, sebagian lagi untuk belanja, dan sebagian untuk dirinya sendiri. Pendapatan bersih untuk dirinya sendiri sekitar 500 ribu malam itu. Dan yang membuat saya kaget adalah jumlah itu ternyata pendapatan normalnya setiap hari. Sehari segitu, berapa sebulan? Segitulah pendapatan orang yang umurnya hanya setahun diatas saya. Sedangkan gaji saya saat itu yang sangat saya syukuri? 1,5 juta sebulan. Orang yang tidak selesai kuliah berpenghasilan 10 kali lebih banyak dari saya.

Sekarang Dave punya restoran Jepang sendiri di Bintaro, dengan cabang di Melawai. Cabang di UPH sedang dibangun, begitu juga dengan cabangnya di Karawaci. Si gerobak masih tetap mangkal.

2. Teman sekelas waktu kelas 1 SMA. Kita panggil saja dia R.

Anak ini tidak terlalu pintar di sekolah dalam artian nilainya selalu jelek. Tapi dia punya selera musik yang sangat bagus. Dan entah bagaimana saya tau dia ini pintar dalam hal-hal di luar sekolah, seperti bermain musik, menggambar, berteman, main game, dsb. Waktu kelas 2 dia terkena masalah pidana sehingga harus masuk bui dan menghilang dari sekolah. Kelas 3 dia bisa lulus walau harus ngepot sana-sini dengan nilai pas-pasan. Tidak diterima di kampus manapun kecuali yang harus bayar mahal. Untungnya keluarganya cukup berada. Walaupun demikian, dia kuliah bukan untuk mencari nilai, tapi untuk mengumpulkan informasi dan koneksi sebanyak-banyaknya bagaimana dia menjalankan hal yang dia suka, sambil terus melatih hobinya di fotografi, desain, dan videografi. Kuliahnya berantakan. Secara psikologis anak ini sangat pemberontak dan tidak suka diatur. Mustahil dia bisa bekerja di perusahaan yang bagus. Kepepet karena gak dapet-dapet kerja akhirnya dia nekat minjem duit dan membuka usaha sendiri. Karena dia sudah mencicil selama kuliah 5 tahun itu, tidak susah buat dia membuka PH sendiri dengan bantuan dana yang ada. Klien langsung dapet karena punya koneksi yang didapet waktu kuliah. Perusahaan air mineral terbesar pula. Itu tuh, yang ada botol kaca premiumnya. Kontraknya miliaran, dan dia CEO nya. Seumur dengan saya, tapi jadi CEO dengan proyek miliaran. Lebih-lebih dulu saya lebih berprestasi di sekolah dibanding dia.

3. Teman sekelas juga waktu bareng si R. Kita panggil dia Bedul.

Latar belakang kurang lebih sama dengan si R tanpa masuk bui. Tapi saya sama sekali tidak melihat kelebihan anak ini selain suka main bola dan sangat baik hati. Nilai sekolah tidak pernah bagus. Jago mencontek. Lulus dengan nilai pas-pasan. Tidak diterima di kampus manapun dan tidak punya back up keluarga yang berharta. Karena tidak berkuliah ini, waktunya dihabiskan untuk membuka usaha fotokopi dan print di depan kampus UKI. Tempat seukuran 3 x 3 meter jadi usahanya. Hanya bermodalkan 2 komputer dan 2 printer (bekas jaman SMA), sama 1 mesin fotokopi bekas. 5 tahun waktu kuliahnya difokuskan pada usaha ini. Dan sekarang dia sudah buka franchise atas usaha percetakan ini. Pegawai di depan UKI sudah 20 orang lebih, dan penghasilan bersihnya sebulan 15-20 juta. “Lo tau gue kan ji, siapa yang mau hire orang kaya gue coba? Cengangas cengenges. hahaha. Tapi disini gwe dapet penghasilan segitu. Gak akan ada orang lain yang  mau bayar gue segitu kecuali kalo gue jadi anggota DPR. Lo punya tempat kosong gak ji? Gue pasangin sistem percetakan gue aja. Lo gue kasih diskon spesial untuk beli franchise gue” Hehe. Sayangnya gue gak punya duitnya ‘Dul.

4. Kakak Kelas yang menghamili anak orang. Kita panggil saja H.

Tidak terlalu bagus nilainya di sekolah seperti R dan Bedul. Sering terlibat kasus perkelahian. Tidak sengaja menghamili anak orang dan menghilang ke Bandung sama istri dan anaknya ini. Dengan adanya tuntutan anak dan istri, dia terpaksa tidak kuliah. Pinjam modal ke bapaknya untuk membuat satu kios handphone di BEC. Ketika saya tidak sengaja ketemu dia pas lagi mau beli handphone, kita ngobrol sedikit dan dia kasih saya harga handphone spesial padahal barangnya jarang. Ternyata beberapa toko dalam deretan di lantai itu adalah punya dia semua, total waktu itu dia punya 8 kios handphone dengan pegawai sekitar 20. Entah berapa penghasilannya.

Keempat orang itu adala teman saya yang sudah mulai merintis usahanya ketika saya sedang sibuk mengejar nilai di Universitas.

5. Teman musisi di Bandung. Kita panggil saja Onta.

Kuliah berantakan. Kegiatan getting high melulu. Hobi main musik noise yang hanya bisa dinikmati sama dirinya sendiri. Tapi tekun main musiknya. Waktu TA di Itenas, dia bikin komik wayang yang sebenarnya itu TA dibikinin sama kita-kita dengan niat juga iseng-iseng karena doyan gambar. Waktu kuliahnya bukan dipakai untuk cari nilai, tapi seneng-seneng ngamen main musik noise sana-sini dan nongkrong dan berteman sambil getting high. Sekarang dia Creative Director salah satu advertising agency multinasional terbesar di Indonesia. Padahal dulu keliatan hidupnya gak beres dan nilai gak mendukung.

6. Mantan bos saya. Kita panggil saja si Bos.

Saya kurang tau latar belakangnya dengan detil. Tapi dalam satu pembicaraan telepon dia bilang begini: “Gilang, buat apa kamu tukar masa bakti 4 tahun di perusahaan demi sekolah S2? S2 itu murah lho. Sorry to say, tapi itu cuman 50-60 juta. Dalam waktu 4 tahun itu bahkan kamu bisa dapetin lebih dari sekedar titel dan uang 50-60 juta lho. Coba, berapa kesempatan bekerja di perusahaan besar yang bisa kamu dapat kalau kamu rajin ngelamar? Berapa kesempatan bisnis yang bisa kamu jalanin dalam 4 tahun? Berapa uang yang bisa kamu tabung plus bonus dan komisi yang kamu dapet? Berapa waktu yang bisa kamu habiskan sama keluarga dibanding kalau kamu kuliah sambil bekerja? Sekarang umur kamu 26, itu masih muda! Mana yang lebih urgent butuh titel, kamu atau saya? Saya direktur berusia 40 tahun dan saya belum punya titel apapun! Saya yang lebih urgent butuh titel. Masa direktur belom punya titel? kalah sama anak buahnya. Yah tapi terserah kamu sih, saya cuma kasih pandangan. Bahwa saya berhasil dengan menjadi direktur dulu, baru sekarang saya pikirin kuliah. Saya pikir sayang aja kalau orang kayak kamu terjebak di perkuliahan padahal kamu bisa mendapatkan yang lain banyak sekali.”

Begitulah. Ini hanya sebuah pemikiran. Bukan saran atau sugesti. Bukan juga jalan yang akan saya ambil (toh waktunya sudah lewat juga). Ini hanya sebuah pemikiran yang mungkin saja dibaca adik-adik SMA yang masih 15-17 tahun dengan semangat dan passion yang besar akan idealismenya dan berpandangan diluar jalur. Jangan bermimpi jadi pegawai ya. Bermimpilah jadi orang yang menciptakan lapangan kerja.

Buat yang seusia saya dan baru menyadari hal-hal seperti ini. Kita enaknya ngapain ya? Haha.

Ini ada video dari Pink Floyd. Silahkan dinikmati.

*Wow. Tulisan ini jadi kepanjangan. Mungkin nanti saya akan coba pecah jadi beberapa bagian, kalau ada waktu. Terima kasih sudah membaca. Terima kasih Prof. Eko Indrajit yang sudah memberi ilmu pada saya yang bukan mahasiswanya.

Positif

Saya pernah membaca buku yang sudah entah kemana. Judulnya kalau tidak salah Positive Thinking ala Nabi Muhammad. Buku ini mengajarkan bagaimana berpikir positif bisa membuahkan ketenangan batin. Sebenarnya tekniknya cukup simpel, bahwa kita disarankan selalu mengutamakan kemungkinan-kemungkinan yang positif atas suatu kejadian. Ini akan membuat kita lebih tenang dalam menerima sesuatu yang ujung-ujungnya akan membuahkan kebahagiaan.

Itu hanya prolog yang (seharusnya) tidak ada hubungannya dengan apa yang mau saya sampaikan disini.

Hari ini saya mendapat berita yang positif. Literally. Isi pesannya hanya itu. Positif. dan saya berbahagia.

Jakarta, 13 Januari 2013

Error 405 pada WordPress untuk Blackberry

Blog posting yang sedang anda baca ini diedit dan publish langsung dari perangkat Blackberry. Dipermudah dengan aplikasi WordPress for Blackberry. Bagi siapa-siapa yang pakai Blackberry dan punya blog, serta susah buka laptop dan connect ke internet, aplikasi ini bisa sangat berguna.

WordPress for Blackberry menyediakan 2 pilihan untuk add blog. Yaitu blog yang hosted di wordpress dan self hosted. Untuk add yang host di wordpress cukup mudah. Tinggal masukkan URL, username, dan password, langsung jalan. Tetapi untuk yang self hosted, saya beberapa kali mengalami error 405.

Bagi teman-teman yang akan add blog self hosted ini tidak perlu panik dan langsung menyerah. By default wordpress memang men-disable kemampuan ini. Error 405 itu juga hal yg sangat common dan pasti akan dialami apabila sebelumnya kita belum merubah settingan dalam situs kita.

Sebelum add blog, login via browser ke dashboard site anda. Pilih setting > writing > enable XML – RPC. Pastikan si XML – RPC ini dicentang. Setelah save settings, seharusnya anda bisa add blog anda di aplikasi blackberry tanpa masalah. Kalau berhasil, nama blog anda akan terlihat bagian atas menu dan anda bisa melihat judul-judul postingan pada menu posts seperti gambar berikut.

wordpress for blackberry menu

wordpress for blackberry posts

Silahkan dicoba dan selamat menulis kapanpun dimanapun dengan blackberry anda.

Satu tips lagi, sebaiknya jangan coba add photo/picture dari blackberry ketika anda sedang menulis post. Barusan ketika coba masukkan foto dalam postingan ini yang saya alami adalah hang sekitar 10 menit untuk loading folder pictures saja yg padahal gak sampai 2Gb. Atau kalau mau coba-coba, save dulu tulisannya.