Kalau kamu saat ini berumur sekitar 27-30 tahun, dan ditanya apa cita-cita kamu, apa kamu bisa menjawab? Seandainya kamu pikir bisa menjawab, apa jawaban kamu? Apakah jawaban itu benar-benar cita-cita kamu? Atau hanya jawaban umum saja seperti “Ingin membahagiakan orang tua”, atau “Ingin hidup bahagia”, atau “Ingin berguna bagi orang banyak”? Kita harus sepakat bahwa bukan itu yang dimaksud dengan Cita-Cita disini. Saya berbicara tentang cita-cita sebagai “what you’ll become”, bukan “what you wish to happen“.

Saya pernah ditanya dan kesulitan untuk menjawab itu. Saya ingat pernah ingin menjadi musisi, karena influence yang sangat besar dari Ayah yang musisi. Kemudian ingat ingin menjadi dokter karena tergoda dengan kemapanan yang dicontohkan oleh Uwak saya yang seorang dokter. Tapi kemudian saya ragu untuk menjawab ingin menjadi musisi atau dokter, karena yang saya lakukan dan kerjakan pada saat itu sama sekali tidak ada hubungannya. Saya lulusan Komunikasi yang bekerja di perusahaan IT, sudah menikah dan dikaruniai dua orang anak. Konyol rasanya kalau saya masih mau menjadi musisi atau dokter. Mau kasih makan anak istri apa kalau saya menempuh jalan musisi dengan skill pas-pasan? Mana bisa juga ujug-ujug kuliah kedokteran tanpa ada pemasukan menghidupi anak istri? Tanpa sadar, saya sudah menjadi orang yang hidup dengan pola standar: kerja jadi pegawai – nikah – punya anak – sekolahin anak – nikahin anak – punya cucu – pensiun – terus mati, dan bukan sebagai musisi atau dokter. Sounds familiar?

Begitulah pertanyaan tentang istilah simpel yang waktu SD dulu kita bisa jawab dengan lantang (“Saya mau jadi Presiden, Bu!” atau “Saya mau jadi Astronot, Bu!”) bernama Cita-Cita, menjadi salah satu pertanyaan yang paling rumit untuk dijawab. Saya yakin sebagian besar dari kamu juga kesulitan menjawab ini. Hayo jujur.

Indonesia Bagus

Indonesia bukan milik suatu golongan. Bhineka Tunggal Ika. Ia dirancang untuk menyatukan berbagai perbedaan. Toleransi yang luar biasa untuk tujuan bersama.

Prinsip tersebut saat ini terancam dengan bualan-bualan membakar di socmed yang begitu saja ditelan oleh pikiran-pikiran sempit dan pendek yang membuat hidup tidak nyaman. Tapi saya yakin prinsip tersebut terus turun kepada generasi kita dan banyak yang terus memimpikan Indonesia yang ideal, sebagaimana awal dia dirancang.

Para penerus ini pantang menyerah. Mereka akan terus percaya dan menyatukan perbedaan ini kembali. Seperti kami yang mengucapkan selamat kepada mereka yang merayakan.

“Selamat Natal untuk semua teman dan saudaraku tercinta yang merayakan!”

– Eji (muslim)

View on Path

Seniman bukan Penghibur

Bagi saya, “artist” itu ada dua macam. Pertama adalah seseorang yang saya sebut sebagai Seniman Karya. Kedua adalah seseorang yang saya sebut sebagai Penghibur.

Dua istilah itu berhubungan dengan dua macam Audiens. Pertama adalah audiens yang saya sebut sebagai Penikmat Karya. Kedua adalah audiens yang saya sebut sebagai Penonton.

Kedua macam “artist” itu punya garis hubungnya sendiri-sendiri dengan dua macam Audiens tersebut, dan itu bukanlah garis hubung yang silang. Bila terjadi penyilangan garis hubung, maka yang terjadi adalah ketidak puasan pada salah satu pihak, atau keduanya.

PS: Tidak seharusnya Billy Corgan itu dimasukan dalam macam “artist” yang kedua.

Penikmat vs Pelaku Musik

saya kurang yakin menyebut dua kubu tersebut dengan benar, tetapi perseteruan keduanya akibat kemajuan teknologi yang bermuara kepada industri musik ini selalu menarik saya untuk menyebut mereka seperti itu. dua kubu yang seharusnya saling mendukung satu sama lain terjebak dalam satu kondisi yang aneh.

permasalahan industri musik ini memang merupakan suatu hal yang sudah sangat umum. yang janggal untuk saya adalah, kenapa hal yang umum seperti ini juga belum mendapat pemecahan masalah yang benar? setidaknya untuk mengurangi dampak negatif bagi pelaku musik, dan mental penikmat. atau apakah sebenarnya dengan semua orang berpindah ke jalur newskool ini sudah merupakan solusi?

anyway, saya hanya kembali tersentil perihal ini karena perdebatan singkat dalam kolom komentar suatu blog yang memposting bootleg fatboy slim untuk di download. berikut percakapannya:

—————————————————————————————————————————————-

population_control said…
damnit this is too intriguing to not grab
strunkdts said…
For the major labels, it’s over. It’s fucking over. You’re going to burn to the fucking ground, and we’re all going to dance around the fire.BUT 99% of this music u post is INDIE!!!!!!!!!!! and like it or not, and whatever argument you and others have, you are destroying small labels and ruining young artists. As an artist myself it hurts to work 2 jobs and use every bit of spare time to arite and perform then release something and bang…nothing cos all the kids just download these days..no one buys. Why would you, once its on ur laptop and theres another couple of terrabyte to listen to.!?
AAAAARRRGGHHH!!!!!
I didnt do music for the money but i believe i shoulfd be rewarded for my artistis merits and allowed to use that reward to create more and bigger better productions without having to kill myself at work 60hours a week!

Just saying.

A said…
fatboy slim sold out a long long time ago. shut your rave hole..
rokitfive said…
embrace the industry for what it is. you’re not going to change things with posts like this. if your music is dope, people will come see your shows. artists have never made much money on album sales anyway. if you’re confident in your music you should want more people to hear it and be exposed to it, whatever the cost. if thousands of people hear your album for free (and love it), you’ll have tons of people coming to your shows and you’ll start garnering more and more attention for yourself. talent always prevails.Just saying.

blitzkneiser said…
what’s more, i believe many people here buy a lot of CDs, when they like the music.Personally I buy a lot of them, expecially at concerts.

Tom said…
studies have shown that the people who download the most music, also tend to buy the most music.

————————————————————————————————————————————–

benarkah demikian, Tom?

handmade jewelry – kelatahan yang menarik.

di toko-toko sering sekali saya temui kalung-kalung buatan tangan dengan ukuran tali yang hampir sama panjang, dengan tipe tali polos yang dikombinasikan pendant besar yang akan bergantung tepat di pertengahan dada-perut ketika di pakai. kalung-kalung jenis ini terdapat di toko-toko dan butik independent sampai toko-toko besar di mall-mall sekalipun. beberapa teman saya berkata:
“sekarang udah banyak banget ji kalung-kalungan kayak begini.. semua orang pada bikin”
yang mengatakan demikian adalah teman-teman yang menurut saya sangat kreatif dengan kalung-kalung buatannya. bisa dikatakan bahwa mereka-mereka ini lah yang mulai membuat kalung-kalung seperti ini di scene lokal secara independent. tiap kalung dibuat unik sehingga tidak ada satupun kalung yang persis sama – tipikal perentilan handmade.
di lain waktu, dalam suatu obrolan dengan teman yang lain, tercipta ucapan:
“kalung seperti ini menjamur karena setiap orang merasa bisa membuatnya, dan sayangnya, mereka punya waktu, dan tempat memperoleh bahan-bahannya mudah dicapai.”
kalimat tersebut terucap dengan latar belakang “tinggal di kota bandung” – dimana tempat-tempat pendukung pembuatan kalung ini sangat mudah dijangkau. cukup membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai di pasar baru, dan jarak kampus ke rumah juga tidak terlalu jauh sehingga tenaga tidak akan habis di jalan dan masih ada tenaga sisa untuk mengerjakan kalung-kalung ini di rumah. beda dengan di jakarta.
saya bukan pelaku fashion, bukan penikmat, dan bukan pengamat. saya hanya secara tidak sengaja bersinggungan dengan dunia perkalungan, dan ikut berpikir mengenai masalah penjamuran ini. pemikiran itu kemudian meluas dan rasanya bisa disematkan pada produk-produk lain yang juga menjamur di kota.
semua berkata: “ah.. ini mah kita bikin aja sendiri…”

Adakah Cerita Bagus Tanpa Unsur “Antagonis”?

seorang teman menceritakan kebenciannya pada seorang tokoh cerita yang menurutnya sangat jahat. kebenciannya cukup tergambarkan dengan jelas, seakan ia tidak menginginkan tokoh tersebut berbuat sedemikian rupa sehingga merugikan tokoh-tokoh lain yang berperan sebagai jagoan di dalam cerita itu. cerita itu adalah cerita perwayangan, yang mungkin bisa anda bayangkan apa-apa saja yang bisa disebut sebagai perbuatan jahat dalam setting kerajaan-kerajaan jaman dahulu.
teman saya bercerita dengan berapi-api, dan saya berpikir. banyak orang yang memiliki kebencian terhadap satu peran tertentu yang biasa disebut sebagai penjahat. saya pun pernah seperti itu, maksud saya, siapa yang tidak pernah “geregetan” dengan kelakuan malfoy dan snape pada si kecil harry dalam fase-fase awal perkenalan mereka? saya rasa, siapapun yang membacanya akan memiliki sensasi yang–setidaknya–sama. tokoh-tokoh yang demikian itu seringkali berperan dalam menimbulkan perasaan-perasaan negatif yang tidak menyenangkan, walaupun (terkadang) sebenarnya perasaan itu lah yang membuat sebuah cerita jadi menyenangkan.
apakah tokoh/peran demikian berfungsi menjadi sebuah katarsis bagi pembaca nya? saya tidak tahu. dapatkah sebuah cerita itu hanya terdiri dari orang-orang yang baik saja? baiklah, begini, cerita ini saya beri nama “3 sahabat”:
pada suatu saat di kerajaan Majapahit, ada tiga orang sahabat yang sedang tidak melakukan apa-apa. mereka bernama thomas, jason, dan dimitri. tiba-tiba dimitri melihat jason terbunuh! dan melihat sebilah pedang berlumur darah yang dipegang oleh thomas.
dimitri   : “kamu telah membunuh jason!”
thomas : “aduh, saya tidak sengaja” sambil bengong dan kebingungan.
dimitri   : “kamu harus dihukum!”
thomas : “maaf, saya tidak sengaja. tapi saya akan terima hukuman apapun atas pembunuhan yang saya lakukan ini”
dimitri   : “baiklah, hukuman untuk pembunuh adalah mati! kalau begitu, katakan alasan mu membunuh jason, agar saya bisa mengatakannya pada keluarga almarhum”
thomas : “sudah saya bilang saya tidak sengaja, tiba-tiba saja dia terbunuh. sekarang silahkan menghukum mati saya, itulah hukum yang berlaku”
dimitri   : “baiklah kalau begitu, bersiaplah!”
thomas menutup mata nya.
dimitri   : “tidak jadi! saya tidak tega!”
thomas : “kenapa?”
dimitri   : “kamu memiliki anak yang lebih banyak dan keluarga yang lebih miskin dari jason! kalau kamu mati, bagaimana mereka hidup? sedangkan keluarga jason adalah keluarga yang kaya raya dan tidak memiliki anak. saya tidak jadi menghukum kamu!”
thomas : “baiklah kalau begitu, tapi bagaimana dengan jason yang telah kehilangan nyawanya?”
hantu jason muncul.
jason    : “tidak apa-apa, saya ikhlas untuk mati, karena itu sudah takdir saya. keluarga saya tidak akan kerepotan kalau saya mati. jadi, tenanglah kamu thomas.”
thomas : “tentu saya tenang, saya tidak bersalah.”
jason    : “betul juga”
dimitri   : “kalau begitu mari kita pulang.”
thomas : “baiklah”
TAMAT
ketiga tokoh disana adalah orang baik, ketiga nya tokoh protagonis dalam kebanyakan cerita. semuanya orang yang tidak dapat dibenci karena kejahatannya. ketiga tokoh tersebut saling ikhlas menerima apapun yang terjadi, tidak ada konflik, dan tidak ada pihak yang dirugikan. karena demikian, cerita itu tidak menarik dan menjadi tidak ada bagus-bagus nya. lantas, apa ada cerita yang bagus tanpa adanya peran antagonis? lucu untuk mengetahui bahwa kita selalu membutuhkan suatu peran untuk dibenci/dilawan dalam sebuah cerita.
ps: antagonis disini maksudnya adalah peran jahat, bukan lawan dari tokoh utama (protagonis) seperti dalam pengertian sebenarnya.

Gelar dulu? atau Kerja dulu?

Pertanyaan yang dilempar oleh iklan A mild ini sekejap saja langsung menyinggung alam bawah sadar saya. hal itu terbukti ketika suatu malam saya bermimpi dalam tidur, dan disana saya sedang berdiskusi panjang lebar dengan seorang teman terhormat yang bernama Budi Warsito.

dalam mimpi itu saya bertanya banyak hal. banyak sekali sehingga saya tidak bisa mengingatnya satu persatu. saya bertanya dengan keseriusan yang berlebih. kami berbincang di teras belakang Rumah Buku yang juga merupakan tempat bekerja mas Budi. saya menanyakan kepadanya, bagaimana dia bisa mengambil keputusan untuk tidak meneruskan kuliah, dan malah melanjutkan pekerjaannya. perbincangan kami tidak keluar jalur dan hanya berputar di sekitar situ saja.

mimpi saya itu terputus oleh adzan dzuhur pukul 12 siang. saya terbangun dari tidur panjang, dan merasa sangat lelah. “adduhhhhh….”, begitulah kata yang keluar dari mulut saya sembari membuka mata lebih lebar. saya merasa tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari mimpi tersebut.

jadi? mana yang harusnya lebih di dahulukan? Gelar, atau Kerja?

tema dari mimpi itu kemudian terus berkumandang dalam benak saya. sebelah hati saya mengatakan untuk berhenti bekerja, dan serius dalam skripsi. namun sebelah yang lain merasa sangat khawatir untuk meninggalkan pekerjaannya.

seorang teman pernah berkata soal “keluar dari zona aman”. lalu, mana yang aman?

ps: dalam mimpi itu, mas Budi mengenakan kaos putih oblong. sedangkan dalam kenyataannya, beliau berkata tidak memiliki kaos putih oblong. jadi, mungkin dalam mimpi itu sebaiknya saya membicarakan masalah mengapa beliau tidak memiliki kaos putih oblong dibandingkan masalah Gelar atau Kerja!