Seniman bukan Penghibur

Bagi saya, “artist” itu ada dua macam. Pertama adalah seseorang yang saya sebut sebagai Seniman Karya. Kedua adalah seseorang yang saya sebut sebagai Penghibur.

Dua istilah itu berhubungan dengan dua macam Audiens. Pertama adalah audiens yang saya sebut sebagai Penikmat Karya. Kedua adalah audiens yang saya sebut sebagai Penonton.

Kedua macam “artist” itu punya garis hubungnya sendiri-sendiri dengan dua macam Audiens tersebut, dan itu bukanlah garis hubung yang silang. Bila terjadi penyilangan garis hubung, maka yang terjadi adalah ketidak puasan pada salah satu pihak, atau keduanya.

PS: Tidak seharusnya Billy Corgan itu dimasukan dalam macam “artist” yang kedua.

Penikmat vs Pelaku Musik

saya kurang yakin menyebut dua kubu tersebut dengan benar, tetapi perseteruan keduanya akibat kemajuan teknologi yang bermuara kepada industri musik ini selalu menarik saya untuk menyebut mereka seperti itu. dua kubu yang seharusnya saling mendukung satu sama lain terjebak dalam satu kondisi yang aneh.

permasalahan industri musik ini memang merupakan suatu hal yang sudah sangat umum. yang janggal untuk saya adalah, kenapa hal yang umum seperti ini juga belum mendapat pemecahan masalah yang benar? setidaknya untuk mengurangi dampak negatif bagi pelaku musik, dan mental penikmat. atau apakah sebenarnya dengan semua orang berpindah ke jalur newskool ini sudah merupakan solusi?

anyway, saya hanya kembali tersentil perihal ini karena perdebatan singkat dalam kolom komentar suatu blog yang memposting bootleg fatboy slim untuk di download. berikut percakapannya:

—————————————————————————————————————————————-

population_control said…
damnit this is too intriguing to not grab
strunkdts said…
For the major labels, it’s over. It’s fucking over. You’re going to burn to the fucking ground, and we’re all going to dance around the fire.BUT 99% of this music u post is INDIE!!!!!!!!!!! and like it or not, and whatever argument you and others have, you are destroying small labels and ruining young artists. As an artist myself it hurts to work 2 jobs and use every bit of spare time to arite and perform then release something and bang…nothing cos all the kids just download these days..no one buys. Why would you, once its on ur laptop and theres another couple of terrabyte to listen to.!?
AAAAARRRGGHHH!!!!!
I didnt do music for the money but i believe i shoulfd be rewarded for my artistis merits and allowed to use that reward to create more and bigger better productions without having to kill myself at work 60hours a week!

Just saying.

A said…
fatboy slim sold out a long long time ago. shut your rave hole..
rokitfive said…
embrace the industry for what it is. you’re not going to change things with posts like this. if your music is dope, people will come see your shows. artists have never made much money on album sales anyway. if you’re confident in your music you should want more people to hear it and be exposed to it, whatever the cost. if thousands of people hear your album for free (and love it), you’ll have tons of people coming to your shows and you’ll start garnering more and more attention for yourself. talent always prevails.Just saying.

blitzkneiser said…
what’s more, i believe many people here buy a lot of CDs, when they like the music.Personally I buy a lot of them, expecially at concerts.

Tom said…
studies have shown that the people who download the most music, also tend to buy the most music.

————————————————————————————————————————————–

benarkah demikian, Tom?

ybother? – sebuah ide besar dari kelatahan yang menarik.

kata bergaya iCandy yang berakhiran tanda tanya itu adalah sebuah merek baru yang sedang saya bantu kerjakan. sebuah ide besar yang mungkin tercipta dari kelatahan yang dijelaskan pada postingan saya sebelumnya.
ybother adalah merek dari ide-ide yang terkumpul untuk membuat produk yang mengandalkan kemampuan pemotongan presisi yang dimiliki oleh mesin laser, dan mengeksplorasi segala kemampuan dari plastik acrylic untuk dibentuk dan digabungkan dengan material lainnya. produk-produk yang bisa dihasilkan dari ide seperti ini cukup luas, apapun yang bisa dibayangkan oleh seorang desainer produk, bisa dikejar dengan ide dasar dari ybother ini (laser cut dan acrylic).
lantas kenapa saya menyebut itu sebagai ide yang besar?
saya tidak tahu kapan tepatnya proyek ini dimulai. yang pasti, pengerjaan awal dimulai untuk mengejar display di KICKFEST akhir 2009 lalu. mulai dari situlah saya ikut terlibat. sebagai produk pertama nya, ybother ikutan membuat apa yang banyak dibuat oleh orang lain juga di bandung. yaitu kalung-kalungan dengan model pendant yang disemat di tali panjang sedada.
ketika itu saya hanya tahu bahwa ybother adalah merek kalung, tapi kemudian saya mengatahui bahwa ‘the big picture’-nya tidak terbatas itu saja.
ide nya dapat dijelaskan mulai dari ini: proyek ybother akan melibatkan banyak desainer di luar sana yang memiliki ide untuk menciptakan suatu produk yang dalam pembuatannya menggunakan plastik acrlic dengan pemotongan laser. mudahnya, ybother mengajak siapapun di luar sana untuk mewujudkan ide desain mereka untuk jadi sebuah produk yang bisa dijual. siapapun disini maksudnya benar-benar ‘siapapun’, tidak harus menjadi seorang desainer berpengalaman untuk bisa terlibat. dan ‘siapapun’ ini juga bisa menciptakan ‘apapun’ yang ada di otak mereka. orang yang terlibat tersebut diberi kebebasan untuk menuangkan ide mereka, dan team ybother akan berusaha mewujudkannya. simpel tapi besar. itulah yang ada di pikiran saya ketika mengetahui hal tersebut. bayangkan bahwa seorang berbakat desain produk ingin mewujudkan desainnya, dan ybother membuat desain tersebut tanpa menarik biaya produksi! kemudian produk tersebut dijual dan si desainer juga mendapat bagian dari hasil penjualan produknya. lalu bayangkanlah juga dengan banyaknya jumlah orang yang memiliki ide untuk menciptakan suatu produk! bukankah itu akan menjadi sesuatu yang besar? desainer juga memiliki kebebasan dalam menentukan jumlah serta harga jual produknya, yang tentunya harus dalam perhitungan jualan, dimana kedua belah pihak tidak boleh dirugikan.
ide tersebut masih berada dalam tahap janin dan dalam perhitungannya baru akan lahir di bulan february 2010. dalam tahap ini sudah ada 4 orang desainer lokal bandung yang ingin ikut berusaha mewujudkan ide tersebut. dengan perkembangan yang perlahan ini, saya tertarik untuk menunggu dan memperhatikan bagaimana ide tersebut terlaksana dalam awal semester tahun ini.
ybother sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai bagaimana sistem proyek ini akan berjalan nantinya, dan untuk para desainer produk di luar sana, sayang rasanya jika melewatkan kesempatan menarik ini. semoga semua berjalan dengan baik.
cek website ybother untuk melihat apa-apa saja yang sudah dibuat.

handmade jewelry – kelatahan yang menarik.

di toko-toko sering sekali saya temui kalung-kalung buatan tangan dengan ukuran tali yang hampir sama panjang, dengan tipe tali polos yang dikombinasikan pendant besar yang akan bergantung tepat di pertengahan dada-perut ketika di pakai. kalung-kalung jenis ini terdapat di toko-toko dan butik independent sampai toko-toko besar di mall-mall sekalipun. beberapa teman saya berkata:
“sekarang udah banyak banget ji kalung-kalungan kayak begini.. semua orang pada bikin”
yang mengatakan demikian adalah teman-teman yang menurut saya sangat kreatif dengan kalung-kalung buatannya. bisa dikatakan bahwa mereka-mereka ini lah yang mulai membuat kalung-kalung seperti ini di scene lokal secara independent. tiap kalung dibuat unik sehingga tidak ada satupun kalung yang persis sama – tipikal perentilan handmade.
di lain waktu, dalam suatu obrolan dengan teman yang lain, tercipta ucapan:
“kalung seperti ini menjamur karena setiap orang merasa bisa membuatnya, dan sayangnya, mereka punya waktu, dan tempat memperoleh bahan-bahannya mudah dicapai.”
kalimat tersebut terucap dengan latar belakang “tinggal di kota bandung” – dimana tempat-tempat pendukung pembuatan kalung ini sangat mudah dijangkau. cukup membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai di pasar baru, dan jarak kampus ke rumah juga tidak terlalu jauh sehingga tenaga tidak akan habis di jalan dan masih ada tenaga sisa untuk mengerjakan kalung-kalung ini di rumah. beda dengan di jakarta.
saya bukan pelaku fashion, bukan penikmat, dan bukan pengamat. saya hanya secara tidak sengaja bersinggungan dengan dunia perkalungan, dan ikut berpikir mengenai masalah penjamuran ini. pemikiran itu kemudian meluas dan rasanya bisa disematkan pada produk-produk lain yang juga menjamur di kota.
semua berkata: “ah.. ini mah kita bikin aja sendiri…”

kehidupan selalu berjalan, dengan perubahan.

bisa dilihat dalam kehidupan pribadi saya sendiri yang juga pasti dialami oleh semua orang yang masih terus hidup. yang saya rasakan adalah beberapa perubahan yang terjadi di 2009. dimulai dengan perjuangan saya untuk lulus kuliah dengan mengikuti berbagai proses persidangan dan skripsi yang berjumlah 520 halaman.

sebuah keputusan yang saya ambil untuk menyelesaikan skripsi itu adalah dengan berhenti dari pekerjaan yang saya sukai di majalah lokal bandung karena bisa mengerjakan sesuatu tentang musik yang selalu menjadi cita2. itu bagi saya adalah keputusan yang cukup berat untuk memulai sesuatu yang lebih berat lagi: menjalankan penelitian tentang capoeira yang baru selesai kira2 satu tahun lamanya.

pada saat memulai penelitian itu, perubahan mendadak terjadi dengan timbulnya ketidaksukaan terhadap asap rokok. sesuatu yang aneh untuk saya yang sudah mulai merokok sejak smp secara diam-diam. marlboro merah yang menjadi andalan terakhir mendadak berubah rasa menjadi makanan basi. anehnya, keadaan saat itu sebenarnya memperburuk kondisi saya sebagai pekerja skripsi. saya mulai gemetaran setiap malam ketika mengetik karena tubuh saya menagih adanya asupan asap.

dalam kondisi yang seperti itu, selama satu tahun saya melepas kebiasaan sebelumnya untuk bermain dengan orang-orang. atau bahasa lainnya, “beredar” kalo kata seorang teman. selama itu juga saya mendapat berita tentang berubahnya nasib teman-teman. kebanyakan memang sukses sampai bermain musik diluar negeri, dikejar karir di jakarta, menikah, memulai usaha, dll. kabar-kabar yang baik. saya, masih menyusun bab 4.

setelah skripsi rampung dan lulus – yang ternyata biasa saja rasanya, juga terjadi perubahan dalam masalah hati yang tidak ingin saya ceritakan, karena begitu indah. juga perasaan-perasaan indah lainnya ketika berkelana di gunung kidul, perasaan rindu dengan alam yang sudah lima tahun tidak pernah dirasakan lagi selepas lulus trupala – nama sekolah saya di jakarta dulu. kudung kidul takkan terlupa karena disana pertama kalinya saya benci dengan seorang sahabat, perasaan berharga yang tidak ingin saya rasakan lagi.

dalam pasca lulus skripsi itu saya juga mengalami perubahan di sisi kepercayaan diri dimana, sebagai seorang pengangguran, merasa tidak memiliki kemampuan apapun yang bisa dijual untuk memperoleh gaji. hal itu dipertegas dengan tidak adanya panggilan dari perusahaan-perusahaan yang sudah masuk dalam daftar surat terkirim dengan tempelan daftar riwayat hidup. semua agency periklanan yang setangah diharapkan oleh keluarga tidak ada yang tertarik dengan saya. alhasil, saya mengerjakan apa saja yang lain, termasuk membantu menjaga toko seorang teman dalam sebuah festifal konsumerisme di bandung.

ketika menjaga toko itu, saya berkenalan dengan dua orang marketing sebuah perusahaan yang sedang buka lowongan. mereka baru 4 hari bekerja, dan berhasil memberanikan diri saya untuk mengajukan diri dalam ajang penerimaan pegawai itu. saat itu saya sedang menjadi seorang yang berstatus “4-hari-menuju-wisuda-setelah-nganggur-terlalu-lama-dan-tidak-ada-bayangan-untuk-kerja-seperti-apa”, jadi apa salahnya saya mencoba untuk menjadi seorang marketing? walaupun itu tidak menjadi minat saya sama sekali. saya rela mencoba karena percaya bahwa tidak bekerja adalah sebuah perbuatan menyakiti diri sendiri.

berkat bantuan seorang teman – yang merupakan senior dari 2 orang marketing tadi – saya mendapat panggilan interview. panggilan yang diterima ketika sedang stress tertekan pertanyaan seluruh keluarga: “mau kerja apa sekarang? kan udah sarjana…” itu seperti nyanyian pulau kelapa di isi kepala saya yang tidak ada satu pun pohon bergoyang. di hari ke 4 setelah wisuda, saya pun menjadi pegawai kantor seperti sekarang ini. suatu perubahan terjadi dengan singkat. 4 hari adalah waktu yang sangat berbeda dengan ketakutan saya ketika sebelum wisuda bahwa saya mungkin akan menganggur lebih lama lagi dari ini. setelah 4 hari itu saya berubah dari pemakai kaos + jeans menjadi celana bahan + kemeja. converse telah berubah menjadi sepatu kulit semi formal. sebuah seragam yang tidak pernah saya pikirkan untuk dipakai dalam bekerja di masa depan, yang ternyata malah terpakai di masa kini.

semua berubah, dan itu anugerah.

sekarang ketika jadi pegawai kantoran, saya jadi bertanya-harap-cemas akan adanya perubahan yang kemungkinan akan terjadi dalam waktu dekat diluar rencana seperti yang sudah-sudah.